Minggu, 19 Maret 2017

Skripsi itu yang penting selesai? #4 Skripsian

Pas semester 6, kita ada matkul KKL ke Kemlu. Dalam setiap langkah aku, aku pingin balik lagi kesini. Karena aku emang punya tujuan untuk penelitian disini. Yang pasti bakal ketemu sama pejabat-pejabat di lingkungan kemlu, yang mungkin biasa kita liat di tivi. Atau mungkin tanpa kita sadari, orang yang 1 lift sama kita adalah Pejabat Eselon 1. Tapi kecil kemungkinan kalo Menlu, katanya beliau punya lift sendiri. Aku bilang, “aku bakal balik lagi kesini.”
Masuk semester 7, saat KRSan aku bicarain sama dosen PA aku soal rencana aku untuk magang di Kemlu, beliau bilang “shyta, kalo kamu mau magang, kamu ambil pas jadwal libur atau KKN aja. KKN kan bisa kapan aja. Tiap 3 bulan sekali ada, januari juga ada.” Tapi saat itu, aku malah mikirnya beda, aku males bet ngurusin urusan kampus, kalo uda skripsian. Jadi aku KKN dulu dan ngajuin magang bulan desember. Padahal idealnya kalo mau magang itu minimal semester 5, tapi aku ketuaan apa ya? Aku yang uda ngerencanain jauh-jauh hari aja berasa kayak kue bantet. Apalagi kalo ga direncanain.
Aku ngajuin skripsi bulan oktober. Ini aku nyesel bet nyesel. Berasa telat. Kenapa ga ngajuin september? Terlalu banyak pertimbangan L terus di ACC sekitar tanggal 20 Oktober, aku mengejar ketertinggalan aku selama sebulan.
Aku revisian sebelum semprop sama dospem 1 (11 kali), sampe aku minta izin beliau pake kertas bekas untuk revisiannya. Syukurnya diizinin. 11 kali ibunya sampe bosan ngeliat muka aku, itu sebelum semprop yaa. Apalagi sesudah semprop.
Pas bulan Desember aku ajuin magang ke Kemlu di dir. Infomed. Jadwal magangnya yang aku denger-denger sih 2 bulan. Bulan januari, uda dapat kabar. Katanya untuk penelitian aku ini, cocoknya ke dir. KIPS (Kerjasama Internasional dan Pelucutan Senjata), tapi masalahnya ga ada penerimaan anak magang di direktorat itu. Syedih yaa.
Yaudah aku ajuin lagi magang ke Infomed tanpa tujuan penelitian yang aku cantumkan. Jadi bener-bener pingin magang, setidaknya mimpi aku terwujud.
Eh eh eh. Keesokan harinya, teman aku yang daftar magang bareng aku ke Kemlu keterima magang, udah masuk malahan. Aduh hati aku apa kabar waktu itu. nyesek, terkadang faktor keberuntungan emang ga bisa terelakan. Dia juga sama ngajuinnya ke Infomed, tapi diarahin ke amerop, karena penelitian dia tentang amerop gitu, kalo dia sampe 3 bulan seingatku.
“Terkadang apa yang kita pinginin, orang lain yang dapat.” Faktor Keberuntungan. Faktor ini emang ga pernah ketukar, ga terdeteksi juga siapa yang bakal dapet.
Karena aku galau bet galau, takut ga diterima lagi, aku balik lagi ke kampus untuk buat surat pengantar. Nungguin Kaprodi yang sekaligus dosen PA aku belum datang-datang karena butuh ttd beliau, aku balik ke kosan karena ini hati uda mau petjah, otak udah berasa lumerrr.
Aku nitip ke mba tutik, admin di prodi aku “kalo ibu ke kantor, sms aku yaa mba.” Baru bet baru sampe kosan, mba tutik sms. “shyta, ibu uda datang.” Balik lagi aku ke kampus untuk minta ttd. Untung kosanku dekat. Kayak dari J.CO ke Pizza hut nya Rita Supermall Purwokerto.
Dapat dah tuh ttd. Tapi aku ngajuin ke dir.diplik (googling ya), begitu sampe teras kosan. Aku dapat email dari infomed, “yeyy, aku diterima magang di Infomed.”

Liburan aku ke Jakarta buat pra survey penelitian, judul skripsi uda banyak yang dirubah. Sampe judulnya “Kepatuhan Australia terhadap Lombok Treaty dalam Penanganan Human Trafficking Berdasarkan Politik Hukum Internasional Tahun bla-bla.” Aku ke KIPS untuk minta first data tentang skripsi aku, tapi ditunggu sebulan, belum ada kabar. Aku ga berharap banyak juga sih. 

yuk lanjut lagi bacanya #5 Skripsian

Skripsi itu yang penting selesai? #3 Skripsian

“Kalau kamu ingin menjadi seorang pembicara, kamu harus menjadi pendengar yang baik dan hati yang siap untuk melayani. Jika kamu tidak memiliki jiwa seperti itu, suaramu sangat tidak menarik untuk di dengar.”
Tibalah pada saatnya, aku harus simulasi SemHI di hari terakhir dan nomor urut 5 terakhir, aku ga tau kenapa semua terakhir. Logikanya bagi mereka yang dapat nomor urut pertama, mempunyai banyak waktu untuk revisian, sedangkan yang dapat nomor urut terakhir, hanya punya waktu satu malam untuk revisian. Wow yaa haha
Sebelum aku ke kampus, aku sempetin buat solat duha dulu, supaya semuanya lancar, aku diberi kekuatan, ketabahan, keikhlasan, dan kesabaran untuk menjalani SemHI ini. Biasa kalo habis solat, aku baca istighfar 30 kali, salawat nabi 30 kali, dan ayat kursi 18 kali. Katanya kalo kita istighfar, kita baru bilang “as” aja Allah uda meluk kita.
Dalam 1 hari, ada 6 mahasiswa yang presentasi. Sebelum-sebelumnya, aku yang jadi operator laptop, yang kalo dibilang next, aku klik next. Aku suka sih profesi ini, karena operator duduk di kursi paling depan. Jadi aku benar-benar belajar bagaimana teman-teman aku presentasi. Habis presentasi, dosen memberikan saran, masukan, kritikan, dan arahan. Layaknya kayak semprop dan pendadaran gitu. Tapi, ketika aku mau presentasi, tugas operator diambil alih sama yang lain.
Tiba saatnya aku presentasi. Mama bilang, kalo kamu gugup, kamu baca bismillah 7 kali. Setiap aku mau naik ke atas panggung, aku selalu praktekin ini. Aku merasa, aku lagi diatas panggung, semua mata tertuju padaku, aku aktor utamanya, panggung ini milik aku, mereka adalah penonton yang akan menikmati pertunjukan aku. Mereka akan memperhatikan sekecil apapun gerakan aku, atau bahkan mencari celah kesalahan aku.
Sebelum aku berdiri disini, aku sudah membuat prediksi pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul. Aku uda punya senjata, aku juga uda punya peluru, hanya butuh waktu yang tepat untuk melontarkan, sasarannya sudah siap menanti duduk manis di hadapanku.
Aku mulai dengan pembukaan, bla bla. Sampai aku sebutkan judul skripsiku “Implementasi kerja sama Australia dan Indonesia Berdasarkan Lombok Treaty dalam Penanganan Human Trafficking di Australia th bla bla bla.” Aku ngerasa ini judul okay punya. PD aja gitu. Waktu itu aku pake teori rezim atau efektivitas rezim. Lupaa haha penelitian aku mau aku lakuin di UNIC dan Kemlu (cari sendiri kepanjangannya yaa), pakenya kualidesk, dan bla bla.
Setelah selesai, dosen lulusan ANU nanya sama aku, “kamu uda pernah ikut atau liat semprop kaka kelas?” “belum bu.” “belum? Tapi kamu itu seperti mahasiswa yang sudah skripsian, cara presentasi kamu, cara kamu meyakinkan. Ya bu?” nanya ke dosen pembimbing akademis aku. “iya bener. Padahal shyta itu ya, awal-awal tugas dia itu, ga jelas mau neliti apa, tapi hari ini... gimana bu?” “ga banyak sih yang di revisi, ah gausah di revisi ajalah. Cuma ini aja, metode penelitian dll yang ke bolak-balik, kalo ibu?” “udah, saya ga ada. Ini yaa yang harus dijadikan contoh buat teman-teman yang lain, presentasi yang ideal itu seperti ini.” kalau nanya aku gimana saat itu, mata aku tetap melihat lurus, tapi aku usahain dagu aku nyentuh leher aku (silahkan praktekin).
Jangan pernah ragu buat ngadap dosen dan minta saran ke mereka. “saya harus gimana ya?” “apa yang harus saya lakukan?” dan jangan pernah segan untuk berbagi cerita dengan teman seperjuangan. Terkadang kita butuh mata orang lain untuk melihat. Ups satu lagi, selalu libatkan Allah dalam setiap tujuan kamu, gerak langkah kamu.
Aku punya 2 teman yang kalo berteman tanpa peraturan. Kamu bisa ngapain aja, bisa sealay dan selebai apa dihadapan dia, bisa diajak diskusi sambil ngeteh, bisa diajak karokean, sampe diajak diajak ta’lim ke mesjid. Mereka adalah Nur Annisa Ayu Prasanti (ica) dan Irfan Nur Hidayat (irfan). Mereka yang ga pernah ngejudge aku, ngehakimin aku selama 6 tahun berteman dari semester 1. Mereka orang yang mengerti kondisi dan keadaan aku yang bisa dibilang runyam. Mahasiswa yang ngabisin waktunya, buat mikirin orang lain.
Sungguhpun aku juga sibuk di organisasi, setiap kali ada teman yang ngajak aku diskusi tentang skripsi mereka, bercerita tentang aktivitas mereka, aku selalu nyempetin waktu. Aku punya waktu diluar jam tidur aku untuk bertemu dan ngobrol dengan siapa saja dalam satu waktu. Aku yang atur mau rapat jam berapa, mau ketemuan jam berapa, itu semua atas kesepakatan bersama. Aku priositaskan mana yang lebih dulu aku hubungi, jadi aku uda punya jawaban untuk satu hal, sisanya aku pergunakan untuk hal lain diluar dari yang aku rencanakan. Aku bahkan jarang punya waktu untuk tidur siang atau mungkin untuk nonton film korea, india seperti teman-teman kosan aku lakukan.
Terkadang aku pingin bilang sama mahasiswa yang lagi skripsian, “beruntunglah kalian yang hanya mikirin skripsi disaat semester-semester akhir, sedangkan aku?” tapi aku juga beruntung punya teman yang bisa dengerin omelan aku, ica dan irfan. Mereka pendengar yang baik. Apa yang ga bisa aku ceritakan ke mama karena takut mama kepikiran, aku ceritakan ke mereka.
Setiap aku bilang sama mama, “mama, aku masih banyak kegiatan yang aku harus ikutin di organisasi aku.” Mama bilang, “yagapapa, itu pilihan kamu. Yang penting skripsinya jangan lupa, solat, berdoa.” “iya mah.” Mama ga pernah nyuruh aku buat ninggalin organisasi aku. Karena aku pernah ninggalin organisasi di semester 5, tapi ternyata bukan itu yang aku butuhkan. Aku jadi mempunyai banyak waktu untuk bermalas-malasan dan menunda-nunda, malahan karena waktu yang aku punya untuk berleha-leha sedikit sekali, aku jadi ngerjain semua tepat waktu. Sekali aja aku molor, aku bisa ngancurin semua jadwal yang aku rancang sebelum aku tidur malam. 

Yuk dilanjut lagi bacanya #4 Skripsian

Skripsi itu yang penting selesai? #2 Skripsi

Kalau di HI Unsoed, di matkul Seminar HI semester 5 adalah awal dari proses skripsi. Kalau kamu udah mantep di semester 5, kamu ga perlu bingung lagi buat nyari judul dari awal.
Waktu aku semester 5, aku udah tau mau neliti apa, pakai teori apa, pakai konsep apa. Tau lo yaa, tauuu haha karena ga semua yang kita tau itu benar menurut orang lain. Aku mau neliti tentang PBB, UNODC, Human Trafficking, dan Australia. Aku kekeh bet kekeh ini semua harus ada di skripsi aku. Sebenarnya, awalnya aku tertarik sama perdagangan organ, tapi kata dosen pembimbingku yang juga dosen jurusan komunikasi (konsentrasi globalisasi), “Shyta, konsepnya bagus, tapi terlalu riskan. Kamu yakin mau ambil itu?” itu jidad dosen sambil berkerut gitu, nyali aku langsung ciut.
Jadi aku ambil human trafficking aja. Karena aku memilih konsentrasi globalisasi, dan salah satu matkul konsentrasi globalisasi ada yang ngebahas tentang transnational organize crime, ga hanya itu, aku juga ambil matkul pilihan politik pemerintahan Australia, jadi fondasi aku uda kuat bet kuat buat milih ini.
Waktu itu yang mengambil matkul pilihan politik pemerintahan Aussie cuma lima orang, dan salah satunya aku. Sebelum masuk kelas, kita berlima di panggil dosen. “kalian yakin mau ambil matkul ini?” semua serempak menjawab “yakin.” Ditanya satu-satu alasannya apa? Kalau aku jawabnya “saya mau lanjut S2 di Aussie bu.” “Dimana?” “Adelaide.” Padahal mah, aku gatau juga itu, asal nyeplok aja. Soalnya saat aku SMA, sekolahku sering banget kerja sama dengan sekolah di Aussie, banyak juga teman aku yang S1 di Aussie.
Aussie aja yang ada di pikiran aku saat itu, padahal mah masih banyak negara lain yang bisa dipelajari. Oiya, satu alasan lagi, karena dosen cewek yang aku kagumin, yang sekarang lagi kuliah S3 di US juga alumni ANU di Aussie, tapi ini aku tau pas ibunya uda mau otw ke US. Mungkin uda ada 3 tahun di US.
Saat aku milih ini negara sebagai fokus skripsi aku, aku mulai dah nyari tau semua tentang negara ini biar lebih dekat, yaa aku berdoa suatu hari nanti bisa jadi awardee Australian Award. Supaya aku bisa ngelanjutin skripsi aku. Karena ini negara aware bet sama yang namanya transnational organize crime, khususnya people smuggling dan human trafficking. Sampe di persyaratan Australian Award ada pilihan jurusan yang fokus sama transnational organize crime. Kalau aku di kasih kesempatan bisa daftar Australian Award, aku pingin ambil jurusan ini nih. Moga yaa. Aamiin
Setengah semester pertama, aku acak kadut tuh, karena saking kekehnya pingin neleti tentang itu semua. Nah, nemu nih judul buat semHI aku, yang bakal dikumpulin sebagai tugas UTS. Judul nya aneh bet sih mungkin wkwk Peran PBB dalam Penanganan Human Trafficking di Australia th bla bla..
Setelah UTS kelar, seminggu masuk, langsung diomongin gitu sama dosen yang lulusan ANU, di depan kelas. Nilainya pada min. Setelah itu, aku langsung ngadap dosen yang kedua buat minta hasil review skripsi aku, ini dosen juga dosen pembimbing akademis aku, juga kaprodi. Nah tuh kan kenak semprot haha ampun dah, ternyata emang benar min (score 60). Setelah itu, masuk dah matkul SemHI. Aku sadar bet sadar, yang jadi bahan buat dijadiin pembelajaran di depan kelas ya tugas SemHI aku, aku sebenarnya rada malu, tapi ga ada yang tau ini. Hanya itu mata bu dosen ngeliatnya ke arah aku yang duduk dekat pintu.
Aku paling suka duduk dekat pintu atau duduk di depan. Biar ga ngantuk, biar fokus, biar kalo telat langsung duduk kalo dosen lagi ngadap white board, biar keluar duluan, biar ga ditunjuk dosen, karena menurut kasus yang terulang berkali-kali, dosen suka nunjuk anak yang duduknya dibelakang haha kalo ada dosen begini, tegang bet tegang, tapi seru. Ngomong satu kalimat aja dapat nilai, tapi ya jangan satu kata juga.
Aku malahan aktif bet aktif kalo dosennya begini. Otak aku jadi mikir dan komunikatif jadinya. yah walaupun anak-anak ada yang bilang omongan aku beratlah, ga ngertilah, apalah. Yang penting, aku berani buat ngomong sembari nikmatin adrenalin dan energi yang terus berputar ditubuh aku. Behh.. itu masa-masa sombongnya menjadi mahasiswa, disaat semua terdiam, hanya kita yang ngomong. Nah, gatau tuh terdiamnya karena mikir atau karena ga ngerti bahasa kita.
Setelah aku ngomong di kelas, aku selalu nanya ke teman sebelah aku, “aku kalo ngomong, maksud omongan aku nyampe ga?” “Ga..” aku besok ngomong lagi, terus terusan sampe aku memperbaiki cara bicara aku. Aku juga belajar merespon pendapat orang lain. Kalo kita ga setuju, jangan langsung reaktif ga setuju. Kita harus bisa mengatur kata-kata kita supaya pendapat orang lain tetap hidup walaupun kita ga setuju. Karena orang dianggap ada, saat kita meminta pendapat dari orang lain dan pendapat mereka di dengar. Pengakuan keberadaan.
Pernah ada orang yang mengritik aku di depan orang banyak, “Shyta, gue itu ga ngerti apa yang elo bicarain, sumpah, gue ga ngerti, elo ngomong apa.” Tapi lebih ga ngerti lagi aku kalo dia ngomong suka jeda, menggebu-gebu, arogan, dan berusaha meyakinkan orang lain kalo orang lain harus paham maksud dia. “ya lo ngertikan maksud gue, yaa lo pasti ngerti maksud gue. Apasih, apasih.” Pernah sampe satu kelas ngitung berapa kali dia ngomong apasih dalam sekali ngomong. Yaa mungkin ini pemikiran reaktif aku saat itu.
Tapi aku coba tenang nanggepinnya, karena perkuliahan itu ruang belajar, kalau kita antikritik, kita ga akan tau salah kita dimana, kita ga akan tau kita harus mulai dari mana untuk memperbaiki. Mereka yang berani mengritik kita adalah guru yang terbaik. Malahan kitanya yang harus mengevaluasi diri kalau pemikiran kita masih reaktif kayak aku saat itu. Terima kasih yaa. Oiyaa, tapi jangan kebanyakan ngritik orang lain, ntar lupa untuk ngritik diri sendiri. Kita sibuk ngritik orang lain, karena orang lain belajar dari kritikan, orang lainnya tambah bener, kitanya yang eror. 

dilanjut lagi bacanya yaa #3 Skripsian

Skripsi itu yang penting selesai? #1 Skripsian

#1 skripsi: taklukan dengan doa dan usaha
Teringat masa skripsiku
Masa dimana ups and downs
Aku terus menghitung
Berapa banyak kali aku bersemangat dan seketika patah hati
Berapa banyak kali ku mulai percaya dan seketika kecewa
Banyak yang datang menghampiriku berkeluh-kesah
Bercerita tentang proses yang dianggap melelahkan
Padahal jikalau kita mau duduk sejenak dan mendengar
Banyak yang lebih rumit dari perjalanan kita
Berkal-kali aku berkata
“Bagaikan pesawat, kita itu pilotnya, kita yang atur
mau dibawa kemana skripsi kita.”
Seorang pilot sudah tau, lintasan mana yang harus dilewati
dan tidak boleh dilewati
Seorang pilot juga tau, perbedaan awan dalam satu detiknya
Selebihnya, Tuhan yang menentukan
Skripsi bagiku adalah masterpiece. Mungkin bagi banyak orang, skrispi itu yang penting selesai. Pertanyaannya? Apakah kita mementingkan proses atau mementingkan hasil? Jawaban yang berbeda pasti akan kita temui, tapi yang terpenting “saling menghargai”. Ini adalah salah satu hal yang ku dapatkan ketika aku skripsian.
Mungkin bagi sebagian orang, “jika ingin dihargai, kita harus terlebih dahulu menghargai orang lain.” Tapi bagiku, “jika kita ingin dihargai, kita harus bisa menghargai diri kita sendiri.” Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana? Menghargai diri kita sendiri adalah dengan cara bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari hidup kita, sampai bagaimana kita menghargai karya yang kita buat. Sebesar itu kita menghargainya, sebesar itu pula orang lain akan menghargai diri kita, karya kita.
Judul skripsi aku itu, “Kepatuhan Australia terhadap Lombok Treaty dalam Penanganan Human Trafficking Berdasarkan Politik Hukum Internasional tahun 2013-2015.” Aku punya tujuan yang aku rancang jauh-jauh hari kenapa aku ambil tema ini, kenapa aku fokus sama kajian Australia, kenapa aku tertarik sama Lombok Treaty, kenapa human trafficking. Semua uda aku pikirkan, ga hanya untuk skripsi ini kelar, tapi juga untuk keberlangsungan masa depan aku.
Aku pingin ngelanjutin kuliah s2 di Aussie ngambil jurusan yang berhubungan sama transnational organize crime, kalau harus tawar menawar untuk bisa mendapatkan beasiswa Australian Award, aku punya skripsi ini untuk membuktikan kepada pihak pemberi beasiswa kalau aku layak menjadi penerima beasiswa dan aware sama permasalahan human trafficking di Aussie.
Percaya ga percaya, skripsi itu kelar dalam satu minggu kalau kita sudah tau apa yang mau kita bahas, kita sudah dapat datanya, kita sudah tau mau mulai darimana dan mengakhirinya di kesimpulan dan saran.
Pertama, yang membuatnya berlarut-larut adalah kemalasan kita, kejenuhan kita, aktivitas kita mungkin. Tau ga tau, aku juga gatau siapa yang tau haha saat aku skripsian, aku ga punya waktu buat diriku sendiri, selain untuk tidur. Pilihannya hanya 2, untuk skripsiku dan aktivitasku di organisasi kampus. Malas? Aku pernah malas ngerjain skripsi ga yaa? Aku pernah malas konsultasi ga yaa? Aku pernah malas revisian ga yaa? Dosen aku sih pernah bilang begini sama aku, “Shyta, kamu terus, saya itu sampe bosan ngeliat kamu.” Karena jadwal aku yang padat, ceilahh.. aku ga pernah nunda-nunda sesuatu yang bisa aku lakukan saat itu juga. Begitu abis di corat coret dosen, aku balik ke kosan, revisian.
Kedua, yang membuatnya sampai berlarut-larut adalah bagaimana kita membangun hubungan, chemistry dengan dosen pembimbing kita. Kalo di dunia kerja, dosen pembimbing kita itu bagaikan team work. Yang akan membantu kita, yang akan mengritisi kita, mengingatkan kita, bahkan mengevaluasi kita.
Terkadang aku banyak mendengar cerita, “mba, dosennya begini begitu.” “Mba” “Mba” “Mba”... yang hampir semua berhubungan dengan dosen pembimbing. Selebihnya tentang skripsi mereka.
Saranku, “jangan pernah menidakan dosen, siapapun itu. Semakin kamu menidakan, semakin dekat hubungan kamu dengan dia. Karena apa? Karena kalau benci itu cinta, cinta itu benci. Karena benci kita akan mencari kekurangannya, karena kalau cinta, kita akan melihat banyak kekurangan yang membuat kita juga jengah. Karena ternyata yang kita cinta, tidak sesuai disaat tatap mata awal melihat. Terbukalah, hati dan pikiranmu, terima siapapun yang akan membimbing kamu. Karena yang namanya skripsian, itu mainnya aura. Kalau aura kamu positif, insyaAllah semua akan menjadi ringan, dan sebaliknya.”
Jadikan dosen pembimbing sebagai teman kamu, sahabat kamu, teman curhat kamu mungkin haha tapi ga semua dosen punya waktu untuk mendengarkan curhatan kita.

Habis ini, aku bakal cerita giman proses skripsian aku.. #2 Skripsi

Minggu, 22 Januari 2017

#4 Proses Hijrahku

Sehari berangkat ke Jakarta, lalu ke Purwokerto, aku masih ngasuh aga. Ngerasa capek banget, karena dia maunya sama aku terus, ga mau sama mama atau papa. Biasanya kalo sama papa, suka duduk di depan TV sambil nonton upin ipin. Anteng aja. Pernah sampe ketiduran. Kalo sama mama, biasa kalo aku lagi masak, aku titipin bentar. Tapi kali ini maunya sama aku, sampai-sampai tidur dipundak aku, gamau ditaruh di tempat tidur, udah dicoba berkali-kali malah bangun. Capek duduk, aku tiduran diatas bantal yang tinggi untung nyangga badan aku. Ehh malah aku ketiduran.

Aku baru sadar, apa yang aku lakukan selama ini adalah jawaban atas doa-doa aku. Dalam setiap doaku, aku bilang sama Allah swt. “ya Allah, aku pingin jadi orang yang bermanfaat buat orang lain dan berbagi dengan sesama.” Sadarnya aku, berarti aku bermanfaat buat kakak aku, bisa bantu dia buat jaga aga. Disaat aku makan, aku juga harus nyuapin aga makan. Apa yang aku makan, harus bisa di makan aga. Itu namanya berbagikan? Iya dong haha

Dari semua hal yang terjadi dalam hidupku selama setahun ini, adalah proses hijrahku. Belajar dari pengalamanku, pengalaman orang lain adalah modal dasar buat aku. Sampai aku merintis yuesdollar.id: Public Speaking. Untuk proses selanjutnya, silahkan dibaca tulisan aku yang bakalan cerita penuh tentang #... yuesdollar.id

Selama aku di Jawa, banyak hal yang membuat aku tertegun. Aku jadi lebih sering solat berjamaah di masjid dekat rumah eyang di Purwokerto. Silaturahmi dengan teman-teman eyang yang umurnya 80-an tahun, jika eyang masih ada, mungkin kita bakal ke masjid bareng. Semoga eyang senang jikalau aku mendekat dengan teman-teman eyang.

Suatu ketika, saat solat udah dimulai. Ada anak kecil, berdiri disamping kanan aku. Dia ngikutin imam baca surat. Aku netesin air mata, aku bisa apa? Itu anak ngikutin imam sampe kelar baca surat yang aku sendiri ga tau itu surat apa. itu aku langsung ngerasa malu bet maluuuu. Terus ada juga imam yang suaranya bagus bet bagus, sampe-sampe buat aku terenyuh, rasanya getaran suaranya sampe ke hati. Kalo imam itu yang jadi imam saat solat, begitu aku salaman dengan samping kanan kiri aku. Matanya pada basah.

Nah ini nih, yang bikin lumer. Aku pernah tuh habis wudhu, ini mata nakal bet nakal. Tiba-tiba ngeliatin ke arah satu cowok yang lagi berdiri, tau ngelamun, tau apa. Dia pakai baju batik warna ungu. Horden yang ada di masjid rada ke buka dikit, keliatankan siapa yang lagi adzan, rupanya cowok yang aku liatin itu, terus dia iqomat. Maaf Yaa Allah swt. solatnya jadi ga khusyu karena cenyum-cenyum cendili. Lain waktu, aku ketemu dia lagi, eh rupanya udah suami orang.

Pernah suatu hari, ada orang yang nyamperin aku, dia bilang, dia mau pulang ketemu anak istri, tapi ga punya uang buat naik kereta. Si bapak cerita panjang bet buat ngejelasin hal itu, terus aku pamit. Pas aku pamit, bapak itu bilang, mungkin mba bisa bantu? Aku nya udah keburu jalan. Terus aku sepanjang jalan mikir, bapak itu minta bantuan? Tapi uang aku itu, uang terakhir. Kalo bantu banyak, jelas ga bisa, tapi aku baru mikir lagi, lah kenapa ga akan bantu sebisa aku, semampu aku. Habis itu, aku ke inget kata-kata “jika ada seseorang yang ada di hadapan kamu, sedang mengalami kesulitan, sebenarnya bukan mereka yang diuji, tapi kamu yang diuji.” Ini kata-kata terngiang-ngiang mulu. Aku nyesel bet karena ga bisa bantuin bapak itu. Urusan bener ga bener, jujur atau bohong, aku mikirnya itu urusan dia sama Allah swt. Semenjak hari itu, aku ga pernah ngebuang kesempatan yang Allah swt. kasih ke aku buat bersedekah.

Terkadang hati, butuh untuk memberi, berbagia biar aku belajar bagaimana rasanya ikhlas. Itu emang ga mudah. Menurut aku ikhlas itu yaa, memberi, berbagi habis itu dilupakan.

Aku lagi di Jogja nih, aku sekatenan sama keluarga aku, yang baru mama kenalin setahun lalu setelah aku wisuda. Alhamdulillah rumahnya dekat Malioboro, tapi harus jaga-jaga biar dompet ga jebol. Aku datang hari rabu, 7 Desember 2016, langsung malamnya aku ke sekatenan sama Rahma dan Putri sampe jam setengah 11 malam. Ampuun maaf yaa tante, anaknya pulang malam. kalo uda jalan-jalan begitu, suka lupa waktu.

Perjalanan ke rumah, aku ngelewatin sebuah masjid, aku bilang sama Rahma, “Rahma, itu orangkan yaa?” “iya mba.” “itu dia solat malam-malam. tungguin yuk.” “ngapain mba.” “takut diambil orang.” Haha

Hari ini, aku banyak ngobrol sama Mbah Rah. Aku taunya pokoknya mbah rah adalah mbah aku. Masih keluarga. diceritain juga tetap aja ga mudeng-mudeng. Aku punya mbah lagi, namanya mbah badil, umurnya udah hampir seratus. Tapi masih ingat sama keluarga-keluarga, kalo dengar suaranya, mbah badil langsung tau itu siapa. Wah, aku langsung tertegun, ren keren bet.

Aku balik lagi ke Purwokerto. Aku ketemu teman-teman yang satu jurusan sama aku. Irfan, Gilang, banyak deh, sampe kita cerita-cerita setelah lama ga berjumpa. See you again yaa..

Proses berhijrahku, tidak hanya sampai disini. Masih panjang. Setiap pembelajaran yang aku ambil yang membuatku yakin akan agamaku, aku akan kasih #.. Proses Hijrahku.. Setia menunggu dan tetap terjaga..

Kapan-kapan aku akan ceritakan ke kamu, gimana proses aku selama kuliah yaa. Proses selama aku kuliah, mengajarkan aku untuk berdiri diatas kakiku sendiri, tidak bergantung pada orang lain. tapi negatifnya aku jadi tidak mudah percaya pada orang lain. Yaa negatif positif, perspektif yaa. See you.
#3 Proses Hijrahku

Hingga detik ini, aku belum mendapatkan pekerjaan yang pasti. Aku kerja sambilan dengan melatih public speaking skill yang aku punya. Aku percaya apa yang terjadi dalam hidupku semua adalah rencana Allah swt. Allah swt. sudah menyiapkan yang terbaik untukku. Rezekiku, rezeki jodohku, bahkan mautku. Tapi aku ga henti-hentinya menyesali kenyataan yang aku alami saat ini. Keluargaku sedang dalam kondisi yang tidak stabil secara ekonomi, tapi aku belum mendapatkan pekerjaan. 

Tertatih? 
Sedikit banyak.. 
Iya.. 

Banyak diantaraku dan disekitarku, yang sudah memiliki seseorang yang akan menjadi bagian dari masa depannya, yang akan menjadi partner hidup, suka dan duka dijalani bersama. Katanya begitu komitmen pernikahan. Beberapa diantara mereka ditakdirkan untuk sukses bareng-bareng, jalan bareng-bareng, bahkan jatuh juga bersama. Tapi aku? Mungkin aku ga siap jikalau harus semua bersama, aku mau aku bisa berdiri sendiri terlebih dahulu.

Aku pernah nemenin teman aku buat ngerjain tugas cowoknya, aku nemenin semalaman. Terus dia bilang, “ta, aku mau tidur dulu 10 menit. Ntar bangunin yaa.” “okay.” Sudah 10 menit lewat, aku belum bangunin dia, soalnya dia keliatan capek bet. Selama itu, aku bantuin dia buat ngerjain tugas cowoknya. Sudah kelar. Aku yang tidur sebentar, terus aku kebangun, dia juga kebangun. Dia nanya “ta, kenapa ga dibangunin?” “ngapain dibangunin, uda kelar tugasnya.” Itu pukul 2 malam. terus aku lanjut tidur lagi. Sampai pagi dia ngedit tugas cowoknya sampai pagi dan ga tidur lagi. “yaa ampuun kamu benar-benar membuktikan kalo kamu itu cinta bet sama cowok kamu, rela berkorban sampe begininya. Kalo aku mah ogah.” 

Paginya saat aku dan dia, saat kita ke supermarket dekat kampus kita dulu. Tiba-tiba mata aku burem, ga bisa ngeliat apa-apa, kepala aku berasa diteken kebawah, aku melototin mata aku, aku gatau kalo aku sampe pejem gimana cerita. “shyta, kamu kenapa?” “pusing. Darah rendah kali aku.” “yaudah ayuk pulang.” Aku peluk temanku, supaya ga tumbang ke belakang saat naik motor. Ampuun kalo itu benar darah rendah, itu darah rendah yang paling parah yang aku alamin. Sampai di kos teman aku, aku berasa kaki aku lemes, keringet dingin, dan ups mules. Badan aku ngilu-ngilu. Aku inget aku belum minum air putih dan teh anget di pagi hari, seperti yang biasa aku lakukan kalo di rumah. Ditambah lagi, aku kurang tidur dan beberapa hari sebelumnya aku mandi hujan karena harus berangkat kerja. Udah deh, congratulations pokoknya mah.

Yang keren itu, ketika kamu udah yakin sama apa yang bakal kamu lakuin, alam dan seisinya bakal ngedukung kamu, sampe-sampe kondisi fisik kamu yang kamu rasa ga mampu untuk dilakukan, tapi ternyata melewati batas kemampuan kamu ketika kamu sudah yakin. Aku sering kemana-mana jalan kaki, yang biasa kalo di Pontianak diojekin sama mama. Jalan kaki buat aku ngerti, buat sadar, dan melihat banyak hal yang belum pernah ada dihadapan aku. Sungguhpun aku udah sering lewat jalan itu. Aku selalu melawan keterbatasan aku, aku selalu menargetkan sesuatu yang bakal aku tempuh. Aku merasa berhasil jika ketika aku sudah bisa sampai targetku dan termotivasi untuk melanjutkan perjalanan.

Ketika aku berada diantara orang tuaku, aku menjadi sangat manja. Apalagi kalo sama mama, mama selalu tau apa yang aku butuhkan, selalu tau aku mau makan apa bahkan sebelum aku mengatakannya.

Mamaku adalah seorang penyabar kelas berat. Aku mencoba menerka-nerka sendiri sih, kenapa hingga detik ini aku belum memiliki seseorang yang bersedia bangunin aku solat subuh. Karena Allah pingin aku seperti mamaku yang penyabar kelas berat.

Kalau ditanya kenapa masih sendiri? “Shyta, kamu masih sendiri karena belum bisa move on dari ....” Aku Cuma bisa bilang “Ahh, bisa-bisa aja nih.” Aku juga ga tau sih kenapa? Mungkin aku harus mengikuti strategi dari film AADC 2 haha pada taukan yaa. Menyelesaikan apa yang belum sempat terucap. Yah gitu sih yang aku ambil dari film itu. Aku juga ngertilah gimana diputusin dari sebuah pesan, sama rasanya di delcont dari bbm “ups.” Mungkin banyak diluaran sana, ketika kita ngumpul uda pada bawa gandengan. Aku mah cuek aja haha

Semenjak aku memutuskan berhijab, aku jadi rajin gitu mantengin instagram tentang Islam, kata-katanya ada yang begini, “Jodohmu sedang memperbaiki diri, kamu?” Semoga yaa Semenjak aku berhijab, aku jadi malu kalo kemana ga pake hijab, kerudung atau apapun itulah. Tapi yaa aku ga bisa ngilangin karakter cara berpakaian aku kalau lagi santai, kadang kaos, jeans dan sepatu sneakers. Uda gue banget itu.

Aku orangnya mudah terstimulus gitu, apalagi kalau yang ngomong termasuk kriteria orang yang berpengaruh dalam hidup aku. Kata kakakku “Shyta, coba pakai kerudung, in shaa Allah rezekinya lancar.” Wah pingin banget.

Mungkin banyak diluaran sana yang mereka kuat karena ada seseorang disampingnya, mungkin ada seseorang yang bersedia menyediakan pundaknya disaat kita terpuruk. Tapi aku, aku ga punya semua itu. Bahkan mamaku, ga pernah sekalipun memelukku. Yah palingan waktu aku mau balik ke jawa. Tapi aku berusaha memahami sih, kalau itu isyarat mama buat aku supaya aku jadi perempuan yang kuat, tegar. Aku harus siap dengan apa yang akan terjadi kemudian hari ketika pelukan sudah tidak lagi terasa.

Aku tau, mama juga mungkin ngerasain kalo aku lebih baik menikmati hidupku, lebih mengetahui diriku dari kejauhan. Sahabat-sahabat aku pada bilang, “kamu ga kasian sama mama kamu? Kan udah tua taa, kasian kalo kamu tinggalin jauh-jauh.” Kalau aku bilang ini juga bagian dari mimpi mama aku gimana yaa? Haha yaa aku sih bilang sama sahabat-sahabat aku, “kita juga uda mau pindah, jadi aku yang pindah duluan.” Aku tau, mama aku pasti lebih senang aku disini, karena mama yang mau aku di Jawa. Mama hanya bingung aku makan gimana kalo mama gabisa ngirimin aku uang disaat aku belum dapat kerja. Tapi aku yakinkan mama aku, bahwa aku ga gengsi jika harus mulai pekerjaan dari bawah sekali. Sekarang malahan aku punya project yang alhamdulillah bisa buat aku bertahan hidup.

Aku tau sih ini ga sopan, kalo aku telponan sama mama terus mama manggil aku, “taa..taa..” aku jawab “oii..” karena mama itu, benar-benar seperti teman, teman berbagi cerita, teman berbagi kisah. Apa yang aku alami, mama tau. Bahkan aku jatuh cinta sama siapa. Mama selalu bilang, “kalo bisa jangan kamu yang jatuh cinta, tapi dia yang jatuh cinta sama kamu. insyaAllah kamu yang akan dibuatnya jatuh cinta dari setiap apa yang dia lakukan untuk kamu.” Aku paham betul maksud mama.
Setiap keluarga itu, unik. Jangankan setiap keluarga, setiap manusia aja unik. Sepakat? 

Aku punya cerita sedikit tentang keluarga teman aku. Keluarganya terlihat harmonis, ayahnya berpenghasilan besar, memiliki pekerjaan yang mantap luar biasa. Ibu nya mendedikasikan waktunya untuk mengurus rumah, sama kayak mamaku. Tapi ayahnya ga mau anaknya kerja yang biasa-biasa aja, maunya punya jabatan. Tapi ya bapak/ibu itu ga mudah di zaman yang kompetitif sekarang ini, apalagi CPNS lagi moratorium. Yang namanya dunia kerja yang kompetitif, ga hanya bicara soal pintar ga pintar, tapi juga penampilan, kesempatan/peluang, link/networking, skills, banyak lagi deh. Dan satu lagu nih yang penting, faktor keberuntungan yang ga semua orang punya, ga semua orang dapatkan dalam satu momen yang sama. Sepakat? Itu bapaknya, nah kalo emaknya. Emaknya katanya dia sih, itu ga ngedukung apa yang dia lakukan, misal dia diterima kerja disini, pasti emaknya menjatuhkan harapan dia gitu.

Yang aku pahami, setiap orang punya latar belakang, alasan, motivasi yang berbeda-beda dari apa yang dia pikirkan sampai apa yang dia lakukan. Mengerti seseorang itu sulit loo. Sungguhpun punya hubungan darah. Apasih yang bisa kita lakukan sebagai anak terhadap orang tua, sebagai kakak kepada adik, adik kepada kakak? Kita cukup makan bareng, duduk berhadapan. Gimana hari ini? apa aja yang udah kamu lalui? Ada cerita apa hari ini? Pertanyaan inilah yang selalu mama ajukan ke anak-anaknya ketika kita punya waktu buat ngobrol, buat bertatap muka, ga hanya disaat kita makan. Malahan karena kebiasaan itu, kita sendiri yang memulai cerita tanpa dipancing mama. Mama sadar betul, kita ga pernah punya kesempatan untuk ngobrol sama papa, terbuka sama papa. Jadi mama mengisi kekosongan itu. setiap aku mengeluh sama mama, mama bilang “jangan suka ngeluh, banyak orang yang hidupnya lebih berat dari kita. Menghela nafas aja jangan.” “iya mah.” Aku paling takut kalo mama udah bilang terserah. Wah dunia runtuh haha. Kalo mamaku, selama dia masih mau ngingatin, ngedengerin, itu plus bet buat aku. Tapi kalo dia uda bilang terserah, aaaa aku atutttt.

Kalo papaku, orangnya lempeng, ga pernah nuntut kita harus gimana, cuek, tapi keras, tegas, tapi abis itu lupa kalo tau habis marah. Kan bete. Biasanya kalo aku ngambek, dia nyuruh beli apa gitu, nanti kembaliannya buat aku. Kan seneng jadinya, gajadi ngambek haha. Kalo papa lagi dimarahin mama, kita cepet-cepet kabur. Kenapa? Ntar dia yang ngomelin kita haha. Pernah waktu itu, aku sama rama duduk depan TV, pas mama lagi ngomelin papa, papa langsung nyambar rama. “rama, kamu itu main hape aja terus. Coba cari tuh di internet nama-nama kabupaten di kalimantan barat.” Aku tawa-tawa aja. Terus adik aku ngejawab, “yee masak aku terus yang kenak, coba suruh mba shyta tuh, paling dia juga gatau.” “yee kok aku?” “mba shyta tuh uda kuliah, pasti dia udah tau.” kata papa aku ngebela. Yang ngomel jadi ketawa haha. papaku kalo di depan TV, bisa 24 jam, dia buat siang jadi malam, malam jadi siang. kalo dia tiba-tiba ketiduran, “terus kita matiin TV-nya, eh kok dimatiin TV-nya.” Itu bapak tua jadi bangun. “tidur tuh dimatiin TV-nya, kasian TV nya capek.” Itu sedikit cerita tentang keluarga aku.


Proses berhijrahku, tidak hanya sampai disini. Masih panjang. Setiap pembelajaran yang aku ambil yang membuatku yakin akan agamaku, aku akan kasih #.. Proses Hijrahku.. Setia menunggu dan tetap terjaga..
#2 Proses Hijrahku

Selama 4 bulan lebih aku di Pontianak, aku manyun aja. Keinginanku hanya satu, aku ingin pulang ke Jawa. (pasrah)

Temanku udah pada kerja, udah pada lanjut studi. Ada yang di dalam negeri, ada yang di luar negeri. Hal yang sulit aku jawab ketika mereka tanya, “uda kerja?” “aku jawab udah.” “Kerja dimana?” “Kerja sama kakak aku, jagain anugerah terindah dari Allah.” “hah, maksudnya?” “jagain ponakan aku.” “kamu jadi baby sitter?” dengan berat aku balas pesan mereka “iya.”

Pada awalnya aku menyesal, kenapa aku harus pulang. Toh aku juga ga bisa ngapa-ngapain disini. Aku juga mempertanyakan keberadaan Allah. “Ya Allah, engkau itu ada ga sih? Kok cobaan aku segini beratnya?” (aku lupa kalo mama aku cobaannya jauh lebih berat) “Ya Allah, aku udah ga kuat.”

Berhari-hari, berbulan-bulan aku mengetuk dadaku, aku mengetuk kepalaku, yang parahnya aku tunjukan ke mamaku. Padahal aku tau tiap malam mama ga pernah tidur yang nyenyak, dia selalu terbangun di tengah malam.

Aku selalu bangun pagi dan duduk minum teh bersama ibuku di meja makan. Aku bertanya “mama, papa pernah menyesal ga sih melakukan itu?” Pertanyaan ini yang selalu ku utarakan sama mamaku hingga detik ini.

Papaku dalam kondisi yang sehat, bugar di usianya yang hampir 60 tahun. Apa sih sebenarnya yang dibutuhkan? Hanya sebuah ketulusan, kasih sayang dari orang-orang terdekat. Detik itu aku benar-benar fokus melihat dari sisi kesalahan papaku. Mamaku selalu menyadarkan aku, “Shyta, beruntung kamu sudah di kuliahkan papa, mama dulu ga bisa kuliah, padahal mama pingin banget kuliah di jurusan Hubungan Internasional (HI) atau Psikologi.” Makanya aku sekarang jadi lulusan HI. Aku merasa tenang ketika aku berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mamaku. Aku selalu melibatkan impian mama dalam setiap impian kecil dalam hidupku. Mama melanjutkan perkataannya, “Jangan benci papa kamu ya. Aku hanya terdiam. Aku ga tau gimana kondisi hatiku yang selalu patah sebelum aku benar-benar jatuh cinta.

Setiap hari sabtu atau minggu, aku dan mama selalu main ke rumah keluarga papa. Ke rumah bude, rumah tante, ke rumah om. Aku merasakan banyak sekali pelajaran aku ambil ketika aku bersilaturahmi. Mama tau bagaimana membahagiakanku disaat-saat jemu selama 5 hari harus stay di rumah, cukup membawaku makan kwetiaw “Bang Oding” dan silaturahmi ke rumah keluarga. Setiap hari jumat, jika bukan diriku yang bertanya, mama ku yang bertanya “besok kita kemana ya mah?” “besok kita kemana ya ta?” “kita bikin mpek-mpek yuk ta di rumah.., kita bikin bakso ikan yuk taa di rumah.. kita beli mie ayam yuk taa di rumah..” Ini kata-kata yang selalu terngiang-ngiang ketika hari jumat tiba.

Selama jadi mahasiswa, kepulangan kali ini yang paling lama untukku, biasa cuma sebulan, yah paling lama 1 bulan setengah, ini juga karena statusku sudah bukan lagi mahasiswa.

Setiap malam aku selalu nonton film di youtube, lihat video IELTS, dan lain-lain. Sampai ada satu film yang aku klik lalu aku tonton, seperti Haji Backpacker, Bulan Terbelah di langit Amerika, 99 Cahaya di Langit Eropa, pokoknya yang dibintangin sama Hot Daddy “Abimana Arya Satya.” Dia sangat menginspirasi, mulai dari cerita tentang kehidupannya, sampai perjuangannya. Dia ga pernah tau ayahnya siapa, tapi dia berusaha untuk menemui ayahnya. Sedangkan aku?

Film-film ini memberikan pembelajaran buat aku, memberikan makna dari agamaku, dan menyentuh ke ranah internasional tentang bagaimana dunia memandang Islam, bagaimana dunia tanpa Islam. Sehingga membuat aku berikrar. “ISLAM ADALAH AGAMAKU YANG AKU BANGGAKAN DAN AKU INGIN ISLAM BANGGA KARENA AKU MENGHORMATI AGAMAKU.”

Pagi harinya, aku bilang sama mamaku, “mah habis pulang ngantar rama (adikku) sekolah, tolong potongin rambut aku yaa.” “udah pendek, mau dipotong kayak gimana lagi?” “pendek, kayak rama” (potongan cowok itu loo) Mama pulang ke rumah, selalu berhasil membuat aku lupa kalau aku minta potongin rambut. Teringat hari jumat, aku potong rambut aja sendiri. Aga sambil senyum-senyum dan geleng-geleng kepala ngeliat aku bolak-balik ngaca, dia juga melakukan yang sama dengan aku. Kalau aku jalan, kalau dia ngesot haha karena belum bisa jalan pada saat itu. Ga lama kemudian, mama pulang. “Taa daaa, mama aku potong rambut sendiri.” “wih sini mama liat.” Aku liatin potongan aku ke mama aku. “Shyta, yaa ampun ini pitak haha” mamaku ketawa. “Abis mama ga mau motongin rambut aku, yaudah rapiin-rapiin.” “ini dirapiin juga uda ga bisa, tunggu tumbuh lagi aja.” Dia ngomel gitu, tapi tetap aja dirapiin haha ini salah satu cara aku Hijrah. Keren banget yaa rambut, udah kayak cowok kalau dari belakang.

Terus aku mutusin buat poto formal dengan menggunakan kerudung walaupun pada saat itu aku belum yakin, aku perbarui poto SKCK dll. Saat aku memperbarui SKCK, polisinya nanya “Loh mba, kok beda?” “iya pak, itu lagi insaf haha” “lah cantikan yang ini.” “hati-hati pak, istrinya ngomel karena muji wanita lain haha.” “Bisa aja mba ini.”

8 Oktober 2016, sahabat ku cicy melakukan akad nikah, aku dijemput temanku untuk pergi bareng ke acara itu. Aga belum bangun, aku bilang sama papa. “Papa, aku mau ke acara akad nikah temanku, kalo aga bangun, tolong dipegang dulu.” “iya.” Terus aku berangkat. Aku benar-benar mempersiapkan bajuku sebaik mungkin. Karena 2 hari ini menjadi hari yang spesial, tentang persahabatan kami dan acara cicy haha. Ini pertama kalinya kita bertemu kembali, lengkap pula setelah bertahun-tahun tidak bertegur sapa. Setelah ikut acara itu, aku pulang ke rumah untuk ganti baju dan lanjut ngobrol di KFC depan komplek rumah aku dengan sahabat-sahabat aku. Pas aku pulang ke rumah, tu aga langsung nangis. Terus jalan nyariin aku. Minta aku gendong. “eh ateu mau ganti baju dulu.” Tetep aja nangis-nangis minta gendong, setelah aku ganti baju baru aku gendong haha. Terus kata mama aku, “udah ta, tiduran aja dulu. Mama dari tadi mau nidurin dia, malah ga tidur-tidur. Udah semua lagu mama nyanyiin.” “yaudah bobo, sama ateu yaa. Tapi janji langsung bobo ya.” Dia mainin mata gitu. Terus aku mau naruh dia ditempat tidur, eh kakinya malah di badan aku gamau dilepasin, “ayo bobo, tadi janjinya apa hayo.” Baru deh dilepasin kakinya. Aku boboin dia sambil nyanyiin lagu dan puk puk pantatnya. Tapi itu mata-mata kedip-kedip, takut aku pergi kali yaa. Aku bilang mama “mama, aga gamau tidur-tidur. Aku udah ditungguin teman.” “tinggalin aja.” Terus aku bilang sama aga, “aga, ateu pergi dulu yaa. Ateu ditunggu teman, nanti sore kita main bareng yaa, aga bobo sama yangti yaa.” Seolah ngerti gitu, dia bolehin aku pergi, rada nangis sih, tapi bentar.

9 Oktober 2016 adalah pernikahan sahabatku Irma Frachilia yang biasa kita panggil Cicy. Sahabat pertama yang menikah diantara kami semua. Aku sangat bersemangat. Sehingga aku memutuskan untuk menunda kepulanganku ke Purwokerto. Tepat di hari minggu sebelum tanggal itu, aku janjian dengan sahabat aku yang lain untuk membelikan dia kado. Hari itu adalah hari pertama aku bertemu dengan Indah. Mamaku yang mengantar aku ke rumah Indah, mama bilang “Shyta, kamu ga pakai kerudung, teman-teman kamu kan pakai kerudung.” Ntah aku terlalu nurut sama mamaku atau gimana. Aku langsung ambil kerudung yang pas dengan warna bajuku. Aku bertemu dengan Indah, kemudian kita melanjutkan perjalanan ke mall di Pontianak untuk membelikan kado buat Cicy. Aku masukin poto aku dan Indah ke instagram pribadiku, aku tulis “senangnya ketemu Indah.” Tapi yang paling membuat aku senang adalah pertama kalinya aku pakai kerudung. (#1 disapa masa lalu)

Sesuatu yang pertama kali dalam hidupku sungguh amat membekas, pertama kali dengar suara papa ditelpon, pertama kali aku dipercaya untuk menyelesaikan tugas, sampai-sampai pertama kali ada seseorang yan mengganggu pikiranku. Pertama kali.

Di hari pernikahan sahabatku, aku juga pakai kerudung. Bisa dibilang itu adalah hari pertama kali ngumpul bertujuh setelah lama tidak saling menghubungi atau bahkan bertatap muka satu sama lain. Kami cerita banyak hal, tanya sana-sini. Kapan mau nikah? Bla bla.. sampai-sampai ujungnya, aku yang ditanya. Aku jawab “jodoh aja belum turun dari langit.”

Sepulang dari pernikahan sahabatku, aku, mama, rama mau menjenguk pamanku yang lagi sakit. Aku mengibas-ngibas rambutku supaya ga lepek-lepek banget. Mamaku bertanya, “kamu ga pakai kerudung?” “ga, pegel.” Kata adikku, “ih.. perempuan ini ni.” Papaku yang ada disitu, no comment.
Teringat, pada hari itu adalah Idual Adha, aku mengenakan kerudung. Hampir seharian aku di rumah budeku. Aku pamit pulang dengan santainya. Aku ga merasa ada yang kelupaan. Terus dari dalam rumah mbaku (anak budeku) teriak-teriak, “Shyta, kerudungmu iki lo ketinggalan.” “Ups.” Haha

Salah satu keluargaku, yang punya anak seumuran denganku. Aku melihat dia, aku yakin sih beban dia lebih berat dari aku karena dia anak pertama yang masih memiliki 2 adik, sedangkan aku anak kedua. Aku teringat, ketika tahun 2011, aku sudah berangkat ke Purwokerto untuk melanjutkan studiku. Tiba-tiba untuk pertama kalinya aku melihat hapeku, tulisan disitu “Papa”. Papa nelpon aku, aku senang. Aku angkat telponnya, “oh, begini ya suara papa kalo ditelpon.” Papa bilang sama aku. “Shyta, paman (adiknya papaku), masuk rumah sakit karena stroke.” Penyakit ini yang membuat pamanku harus keluar dari pekerjaannya.

Lama sekali dia stroke, sampai sekarang sangat sulit untuk kembali normal. Tak lama berselang, ketika kepulanganku yang pertama kali ke Pontianak di tahun ini, aku dengar dia sedang sakit dan enggan dibawa ke rumah sakit. Kepulanganku yang kedua, di hari-hari menjelang kepulangan aku ke Purwokerto, aku mendengar paman akan dibawa ke rumah sakit, setelah melalui semua proses, ternyata pamanku gagal ginjal dan harus cuci darah, tak hanya itu, ternyata dia juga terkena batu ginjal. Setelah transfusi darah. Dia pulang ke rumah dan kondisinya drop lagi yang mengharuskan kembali masuk RS.

Aku benar-benar terketuk. Aku baru sadar ada yang cobaannya lebih berat daripada aku. Sepupuku yang harus menanggung beban ini bersama ibunya yang membuka warung makan. Mereka saja tidak pernah mengeluh.

Terkadang, banyak hal yang ga kita sadari yang terjadi dalam hidup kita untuk membuat kita menjadi lebih baik. Ntahlah, kita sebut hikmahkah, alasankah. 

Aku baru menyadari jikalau selama ini, Allah sudah mengabulkan doaku. Aku bisa bermanfaat untuk kakakku yang membutuhkan bantuan untuk menjaga my aga, keponakanku. Baru aku sadari bahwa sebenarnya aku yang ga bisa memaafkan diriku sendiri, bukannya aku pantas membenci papaku, sama sekali tidak layak. Apa yang papa lakukan buat aku lebih banyak dari apa yang aku lakukan untuk papa. Sama sekali tidak layak aku membenci papa. Sebenarnya aku yang ga bisa menerima kenyataan bahwa sekarang kondisinya sudah berbeda. Aku bukan lagi mahasiswa yang selama ini tinggal nunggu kiriman dari orang tua. Aku bukan lagi seorang "anak mama". Memilih hidup jauh dari orang tua, mengharuskan aku untuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan. Aku harus bertahan hidup.


Proses berhijrahku, tidak hanya sampai disini. Masih panjang. Setiap pembelajaran yang aku ambil yang membuatku yakin akan agamaku, aku akan kasih #.. Proses Hijrahku.. Setia menunggu dan tetap terjaga..